Home » » Novel Tutur Tinular - Nurani Yang Tercabik

Novel Tutur Tinular - Nurani Yang Tercabik

Pengarang : Buanergis Muryono &  S. Tidjab
378405_10150417417711160_625519698_n.jpg
Tembang yang merdu sekalipun akan membuat sakit telinga Bagi hati yang gundah gulana Bagi jiwa yang lelah dan putus asa Bagi sukma yang terlukai ?

@@@

1

Laki-laki tua itu semakin memelototkan matanya ketika orang itu semakin dekat dengannya dengan napas terengahengah karena berlari.

"Ada apa,Wirot?”

 “Eh, anu, Guru....”

 “Anu, anu, apa? Bicara yang baik. Aturlah napasmu dulu." Sejenak keduanya diam, hanya napas Wirot yang ngosngosan menghiasi hari lengang di rumah Mpu Ranubhaya.

Angin pun seolah-olah tak mau hadir dalam kepengapan jiwa lelaki tua yang sangat sederhana itu.

Murid setianya itu pun akhirnya membuka mulutnya.

"Guru, benarkahMpu Hanggareksa dari sini?”

 “Ya. Ada apa dengan setan mata duitan itu?”

 “Katanya...”

 “Katanya apa?" Mpu Ranubhaya setengah membentak murid setianya ketika bujangan tua itu tidak melanjutkan kata-katanya.

"Saya disuruh memperingatkan Guru.”

 “Memperingatkan perutnya? Orang gila, orang sinting.

Gila uang, gila pangkat dan kedudukan... Ohhh... jagad Dewa Bathara, janganlah bibirku mudah menjadi semayam dosa dan karma. Dunia ini sudah terbalik dan kocar-kacir.

Yang benar menjadi salah dan salah dibenarkan." Mpu Ranubhaya menghela napas dalam-dalam tanpa memandang muridnya. Dadanya terasa sesak sekali.

"Dengarkan,Wirot.”

 “Ya, Guru.”

 “Setan alas itu kemari, mau menyuap aku, agar gurumu ini mau menjadi gedibal pemerintah Singasari. Ia memberikan sekantong uang emas. Kau lihat itu, sisasisanya masih'tersebar di lantai gubuk kita. Ambillah dan buang ke pembakaran sampah, atau kauberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan uang itu. Aku tidak butuh uang, aku tidak butuh perak dan emas, aku juga tidak butuh pangkat dan kedudukan. Hanggareksa benar-benar sudah buta." Sekali lagi lelaki tua itu menghela napas dalamdalam, pandang matanya kosong penuh dengan kepedihan.

Seolah-olah nuraninya telah tercabik-cabik oleh sikap dan sifat adik seperguruannya yang semakin mengkhianati nasihat gurunya.

"Apa yang dikatakan orang edan itu padamu,Wirot?”

 “Emh, Mpu Hanggareksa bilang, agar Guru berhati-hati, sebab Guru telah menghina pemerintah Singasari. Guru telah mengutuk Prabu Kertanegara.”

 “Hemh, tanpa aku mengutuknya, sebetulnya Kertanegara dan seluruh Singasari telah terkutuk,Wirot. Haaahh, benarbenar dunia ini telah kacau balau. Kau jangan ikut edan, Wirot. Sudah, sana. Kaukumpulkan uang di lantai itu.

Jangan sampai mengotori rumahku hingga najis oleh uang Kertanegara." Wirot hanya mengangguk lalu segera memunguti uang emas yang masih tertinggal dan tercecer di lantai tanah.

Sebaliknya, Mpu Ranubhaya segera melangkah ke luar.

Terus melangkah meninggalkan gubuk bambunya menuju Sanggar Pamujan di balik bukit.

Langkahnya seperti sangat lelah selelah hati dan pikirannya.

Cahaya matahari semakin terik, udara pun amat gerah.

Mpu Ranubhaya berjalan dibawah bayang-bayang pohon rindang yang meneduhi jalan-jalan setapak yang disusunnya. Ia tidak bisa melukiskan betapa perihnya hati dan sakitnya menghadapi suatu kesucian yang telah dinodai. Kemurnian hati yang dikhianati dan tujuan mulia yang dicabikcabik. Pengabdian yang tidak murni lagi, diinjak-injaknya kebenaran di balik keangkaramurkaan manusia.

Mungkin seperti saat itu di mana ia mencoba menginjak perdu putri malu. Tumbuhan itu serentak menguncupkan daun-daunnya ketika tersentuh. Begitukah hati manusia? Selalu mengabaikan pendirian hidup mula-mula ketika kemanisan dan kenikmatan menghampirinya.

"Tidak! Tidak! Aku tidak mau seperti putri malu, aku tidak sudi menjilat seperti Hanggareksa." Lelaki tua itu berseru-seru hingga suaranya menggaung dan menggema tatkala menyentuh dinding-dinding bukit batu. Ia kemudian berdiam diri sejenak. Bersidekap dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Ia rasakan pusarnya terasa dingin sekali, kemudian rasa dingin itu menyebar ke seluruh nadi darahnya. Ia pun merasakan tubuhnya semakin ringan bagaikan tanpa berat. Itulah ajian Seipi Angin. Ajian untuk meringankan tubuh di samping untuk mengatasi kegalauan hati. Lelaki tua yang berpakaian compang-camping dan sangat kumal itu segera melompat dan melayang bagaikan terbang. Tubuhnya melesat dan akhirnya lenyap di balik rerimbunan pohon-pohonan liar.

Pada hari itu juga ketika seorang pemuda tampan sedang mengendalikan kudanya menuju suatu tempat mendadak ia menghentikan kudanya karena seorang gadis cantik menghadangnya di tengah jalan. Pemuda itu segera turun lalu menuntun kudanya menghampiri gadis cantik itu.

Kuda perkasa itu meringkik seolah-olah ingin bertanya kepada tuannya. Pemuda itu mengelus bulu suri kudanya kemudian menepuk-nepuk kepala binatang perkasa itu.

"Kaukah yang bernama Arya Kamandanu?”

 “Ya. Ada apa?”

 “Aku sahabatNari Ratih. Namaku Palastri.”

 “Hmmm! Kalau kau mengajakku bicara tentang Nari Ratih, maaf. Aku tidak bersedia melayanimu.”

 “Jangan begitu. Nari Ratih merasa sangat berdosa kepadamu. Beberapa hari ini dia kelihatan sangat murung.

Tubuhnya kurus dan matanya cekung karena kurang tidur.”

 “Mestinya dia tidak perlu merasa berdosa padaku.”

 “Aku tahu apa yang dirasakannya karena aku sahabatnya yang paling dekat. Nari Ratih sebetulnya masih mencintaimu " Mendengar penjelasan gadis cantik yang mengaku bernama Palastri sahabat Nari Ratih itu membuat Arya Kamandanu tertawa dan terdengar sangat getir, sumbang dan hambar. Pemuda tampan itu memandang dingin kepada Palastri. Memandangnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dipandang seperti itu Palastri merasa kurang senang, namun ia berusaha memahami perasaan pemuda tampan di hadapannya yang merasa kecewa atas perbuatan sahabat karibnya.

"Heheheheheh, sudahlah! Sandiwara lelucon ini sudah tidak lucu lagi. Layar sudah diturunkan dan para penonton sudah bubar.”

 “Jadi, kau tidak sudi menolongnya, Kamandanu?”

 “Aku tidak pantas menolong seorang gadis yang kecantikannya bagaikan bidadari.”

 “Kalau begitu kau sebenarnya tidak mencintainya. Kalau kau mencintainya dan cintamu itu tulus dan suci, kau pasti akan menolongnya. Nari Ratih hanya membutuhkan pertemuan denganmu walaupun sekejap mata. Kukira hal itu tidak sulit untuk kaupenuhi, Arya Kamandanu.”

 “Mengapa ia tidak minta tolong pada Kakang Dwipangga?”

 “Ini persoalannya denganmu, bukan dengan saudara tuamu. Hanya kau yang bisa menolongnya untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi kalau kau keberatan ya sudahlah. Asal jangan sampai kau menyesal di kemudian hari. Kalau terjadi apa-apa pada sahabatku itu aku tidak mau tahu lagi!" Selesai mengucapkan kata itu gadis cantik itu pun segera membalikkan tubuh dan berlalu dari depan Arya Kamandanu yang ditinggalkan dengan mata setengah melotot. Nampak bingung dan terkejut, seolah-olah baru sadar dari mimpi panjang.

"Tungguuu.., hee tunggu, Palastri!”

 “Kamandanu, kalau kau akan menemuinya sekarang, pergilah ke tepi padang ilalang." Gadis itu bicara tanpa menghentikan langkahnya, hanya sedikit memalingkan kepalanya kepada pemuda yang dianggapnya terlalu dingin.

Gadis itu bahkan semakin mempercepat langkahnya.

Arya Kamandanu geleng-geleng kepala ketika memperhatikan Palastri yang berkain ketat hingga nampaklah lekuk-lekuk tubuhnya yang sintal dan padat.

Kedua pantatnya bergoyang-goyang bagai dua bola beradu.

Ia tersenyum nyinyir dan getir sekali. Ia hela napas dalamdalam sambil menelan ludah pahit. Pemuda itu kemudian merasa tidak enak, kesal dan gelisah. Ada keinginan untuk bersikap masa bodoh dan tidak mau tahu. Tetapi ketika ia melompat ke atas punggung kuda serta duduk pada binatang tunggangannya itu ia mulai berpikir.

"Nari Ratih! Gadis itu telah mengkhianati cintaku dan sekarang ia ingin bertemu denganku. Apa maksudnya? Atau ia ingin merobek-robek dan mencabik-cabik nuraniku? Atau aku ini pemuda yang tidak pantas untuk memiliki kesenangan hati?" Arya Kamandanu berguman sendiri, kemudian perlahan menarik tali kekang kudanya. Binatang itu meringkik tertahan kemudian kaki-kakinya pun berderap berirama. Memecah keheningan dan meningkahi desau angin yang menggoyang-goyangkan dedaunan Bau harum kembang-kembang liar bercampur dengan bau serangga pun menghampiri penciuman pemuda yang dilanda kegelisahan itu Bau walang sangit yang menampar hidungnya membuatnya terjaga dari lamunan. Bersamaan dengan itu ia menyentakkan tali kekang kuda kuat-kuat hingga kudanya melompat bagaikan terbang dengan meninggalkan suara berderap semakin menjauh dan tinggal sayup-sayup.

Pemuda itu terguncang-guncang di atas kudanya yang berbulu cokelat mengkilat. Tegar dan perkasa. Angin kencang pun menampar wajahnya hingga kadangkala ia terpaksa memejamkan mata untuk mengurangi rasa perih bahkan air mata pun keluar karena terlalu kencangnya kuda itu berlari. Akhirnya kuda perkasa itu pun sampailah di suatu tempat. Tempat yang benar-benar menawan dengan panorama alam. Angkasa dan buana seolah-olah menyatu.

Angkasa langit biru yang berhias awan-awan cirrus, awanawan yang putih halus bagaikan kapas bertebaran.

Di kejauhan tampak gunung dan pegunungan yang biru mengelabu seolah-olah ingin mencium bibir langit yang ranum. Kemudian lembah dan ngarai yang menghijau bagaikan permadani menghampar begitu luas menyejukkan mata yang memandangnya. Sepoi angin dan desaunya menggiring pada siapa saja untuk sejenak memejamkan mata. Agar suara gemerisik dedaunan semakin jelas, agar cericit dan kicau burung pun makin merdu seiring detakdetak jantung hati yang menggema mengucapkan segala puji dan syukur ke hadirat Dewata Yang Agung atas segala kebesaran dan anugerah-Nya yang benar-benar ajaib.

Sengatan sinar surya bukanlah suatu hal yang ganas, tetapi cukup bersahabat sebab seringkah awan yang melintas didera angin mengurangi teriknya.

Arya Kamandanu tersenyum seorang diri, ia pejamkan matanya. Menghirup udara segar sepuas-puasnya yang membawa aroma bunga-bunga hutan, bunga-bunga liar, bunga-bunga rumput dan ilalang.

Namun, ia tersentak tatkala kuda kesayangannya meringkik panjang.

Lagi-lagi ia tersenyum seorang diri sebab binatang itu mungkin tahu bagaimana mengucapkan syukur kepada Yang Maha Agung atas kebahagiaan tersendiri yang menyelinap di lubuk hati tuannya di tengah kepedihannya selama ini.

Pemuda itu pun melompat dari punggung kuda.

Memanjangkan tali kekang kuda itu serta menambatkannya pada sebuah batang pohon perdu. Buih dari mulut kuda yang kelelahan itu menetes di rerumputan seiring dengus yang memburu. Pemuda itu kembali mengelus kepala kudanya. Mengusap bulu suri dan menepuk-nepuk leher kudanya dengan penuh kasih sayang. Kuda itu meringkik manja dan mengangkat kepalanya tatkala tuannya perlahan melangkah meninggalkannya. Tuannya berjalan di antara rumpun-rumpun ilalang yang tumbuh sangat subur hampir sedada.

Pemuda itu kemudian mengangkat kepalanya, dahinya berkerut-kerut. Jantungnya berdebar-debar ketika ia harus menghentikan langkahnya di belakang seorang gadis berambut panjang, hitamdan bergelombang.

Rambut itu berhias seuntai kembang melati yang terangkai di tusuk konde dibiarkan berjuntai di telinganya.

Tusuk konde berbingkai emas itu sengaja diselipkan di rambut di atas telinga kanannya, padahal biasanya rambut itu digelung dan dikunci dengan tusuk konde itu. Rambut hitam panjang bergelombang gadis itu sesekali berderai didera angin sepoi padang ilalang pinggir desa Kurawan.

Gadis cantik itu belum menyadari akan kehadiran seorang pemuda gagah dan tampan yang sejak tadi menahan napas oleh kekaguman dan keagungan ciptaan Dewata yang nyaris sempurna.

Pemuda itu perlahan sekali melangkahkan kaki kanannya dan kembali berhenti. Bibirnya bergetar dan meliuk-liuk tatkala dari sana meluncur suara sangat lirih, "Ratih!" suara yang sangat lirih itu seolah-olah tercekat di tenggorokan pemuda itu.

Gadis yang dipanggil namanya setengah terkejut berpaling pada seseorang yang memanggilnya. Suara yang tidak asing lagi di telinganya. Ia tersenyum simpul. Bibir merah jambu itu bergetar dan meliuk-liuk. Matanya yang bulat besar dan indah tampak sayu, agak cekung. Pada sekitar matanya, pelupuknya tergambar garis-garis kecokelatan. Hidungnya yang bangir tampak mencuat melengkapi keindahan bibirnya yang mungil. Ia tetap menyunggingkan senyuman yang paling indah sekalipun dari sinar wajah itu menunjukkan luka dan duka panjang.

Luka dan duka akan sebuah hati, sebuah nurani yang tercabik. Lalu gadis itu berkata lirih pada seseorang yang selama ini sangat dekat di hatinya.

"Akhirnya kau datang juga, Kakang Kamandanu.”

 “Kau masih membutuhkan kehadiranku di tempat ini?”

 “Jangan begitu, Kakang. Kita pernah menjadi milik tepi padang ilalang ini. Kita pernah menjalin hubungan yang akrab dan manis di tempat ini.”

 “Semua itu sudah berlalu, Ratih." Perih kata-kata itu meluncur dari bibir pemuda itu. Gadis itu kemudian bangkit perlahan sekali dari duduknya. Batu hitam tempat duduknya itu masih kelihatan kelimis dan licin pertanda betapa seringnya batu hitam itu menjadi tempat yang istimewa bagi mereka. Gadis itu berdiri tepat di sisi pemuda yang sangat dicintainya. Kemudian ia pun mendesah sangat lirih.

"Yaah... agaknya begitu, Kakang. Semuanya sudah harus berlalu.”

 “Sebenarnya aku tak ingin pertemuan semacam ini lagi.

Aku sudah menguburkan semuanya. Tak ada yang perlu diingat ataupun dikenang.”

 “Aku yang menginginkan pertemuan ini, Kakang. Bukan kau.”

 “Untuk apa?”

 “Untuk melihat pelangi itu yang terakhir kalinya bersamamu. Pelangi yang penuh warna-warni, indah sekali.”

 “Tidak. Pelangi itu bagiku tidak indah lagi. Mataku justru menjadi sakit setiap kali memandangnya.”

 “Yah, semua ini memang salahku, Kakang. Aku wanita yang berdosa Aku tidak pantas lagi memandang pelangi di tepi padang ilalang ini. Aku mestinya sudah dicampakkan ke dalam lumpur neraka. Aku menyesal, Kakang. Aku menyesal sekali telah mengkhianati cintamu." Desah suara gadis itu kian lelah, bahkan teramat berat, hingga tanpa disadarinya meluncurlah butir-butir bening air matanya di pipinya yang halus dan lembut. Hidungnya kembang kempis memerah mengeluarkan ingus. Gadis itu seolah-olah meratap, namun tidak ada yang mengulurkan tangan buat membelai dan mengasihinya. Hati nuraninya benar-benar tercabik.

@@@

BERSAMBUNG
Tutur Tinular buku 3 - Nurani Yang Tercabik 1,2 , 3, 4, 5, 6, 7 TAMAT

0 comments:

Post a Comment